Takdir, punya jalannya sendiri untuk sampai pada orang
yang dia tuju...
Secerdas apapun skenario dan tipu daya yang kau rancang,
untuk mendapatkan atau memusnahkannya,
Sejauh apapun dirimu menghindar,
sehiba apapun dirimu
memohon-mohon penuh harap...
Jika takdir itu memang harus mengenaimu,
ia akan
berbelok menghindar pagar pengaman yang telah kau jadikan penghalang untuknya.
Bagai air yang meliuk lincah mencari celah kecil tak
terlihat untuk lewat
Jika takdir itu memang tak pernah untukmu,
ia akan enyah
jauh-jauh sejak radius puluhan kilometer saat baumu tercium
Apa yang kau takutkan? :)
Takdir tahu kepada siapa harus menuju
Ia tak pernah salah orang, salah tempat, salah saat
Ia tak perlu dituntun,
Karena takdir tahu, jalan pulangnya :)
Ruang Renung, 18/5/2012
**********
-->
Abdullah bin Abbas ra berkata :
Saya pernah berada di belakang Nabi saw pada suatu
hari, beliau bersabda :
Wahai anak, saya hendak mengajarimu beberapa kalimat:
“Jagalah Allah niscaya
engkau mendapati Nya di hadapanmu,
ingatlah Allah di saat lapang niscaya Dia mengingatmu di saat sulit.
Ketahuilah bahwa apa yang luput
darimu tidak akan mengenaimu, dan apa yang mengenaimu tidak akan luput darimu.
Ketahuilah bahwa bersama kesabaran ada kemenangan, bersama kesusahan ada jalan keluar, dan bersama kesulitan ada kemudahan “
Mungkin kita memang harus belajar menghargai yang biasa...
Mata yang biasa melihat, gigi yang biasa mengunyah, udara
yang biasa terhirup, air yang biasa menyegarkan, tangan-kaki yang biasa
menjalankan masing-masing fungsinya, sahabat yang biasa selalu ada, istri yang
biasa melayani, suami yang biasa melindungi dan dijadikan tumpuan, atau bahkan orang
tua kita yang biasa memberikan kasih sayang dan perhatiannya...
Bukan karena itu semua adalah hal-hal yang biasa2 saja,
tapi saking terbiasanya kita mendapat dan menikmatinya, rasanya yang kemudian
menjadi biasa-biasa saja.
(Gak heran kalo rumput tetangga kelihatan lebih hijau,
soalnya ga biasa kita lihat sih.. :p)
Padahal sebenarnya, ketika hal-hal tadi hilang dari
kita, baru akan terasa,
betapa luar biasanya nikmat-nikmat Allah yang sering kita anggap remeh itu...
Termasuk, orang tua, mungkin?
Semoga kita tidak termasuk orang yang disebut Rasulullah
saw. rugi 3x lipat, diberi kesempatan emas membersamai
orang tua kita hingga hari tuanya, namun karena kurangnya bakti kita, atau
kedurhakaan yang terlampau sering kita lakukan, membuat kita tidak bisa masuk
surga... *
- Ruang Renung, 29/4/12-
*Hadits Riwayat Muslim: Dari Abu Hurairah r.a bahwasanya Rasulullah saw. bersabda:
"Sungguh sangat merugi!" (Beliau mengucapkannya
sampai tiga kali). Para sahabat bertanya, "Siapakah yang merugi itu wahai
Rasulullah?" Beliau menjawab, "Yaitu orang yang menjumpai kedua orang
tuanya atau salah satu dari keduanya ketika tua, akan tetapi tidaklah
menjadikan ia masuk surga.
Ini obrolan cukup apik diantara sekian banyak obrolan ga penting oleh para coass jiwa periode Maret 2012 yang -seperti biasa- nganggur tenguk-tenguk nungguin pasien datang di poli jiwa RSDM, hehee :
Syetan diturunkan ke muka bumi untuk mengajarkan satu kata pada manusia: "NANTI!"
(by: mba TWKD, -lupa antara baca di buku atau liat di film-)
Dari Ibnu Umar radhiallahuanhuma berkata : Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam memegang pundak kedua pundak saya seraya bersabda : Jadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau pengembara “, Ibnu Umar berkata : Jika kamu berada di sore hari jangan tunggu pagi hari, dan jika kamu berada di pagi hari jangan tunggu sore hari, gunakanlah kesehatanmu untuk (persiapan saat) sakitmu dan kehidupanmu untuk kematianmu “