betapa luar biasanya nikmat-nikmat Allah yang sering kita anggap remeh itu...
- Ruang Renung, 29/4/12-
*Hadits Riwayat Muslim:
Dari Abu Hurairah r.a bahwasanya Rasulullah saw. bersabda:
dare to share \(^0^)/
Dari Ibnu Umar radhiallahuanhuma berkata : Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam memegang pundak kedua pundak saya seraya bersabda : Jadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau pengembara “, Ibnu Umar berkata : Jika kamu berada di sore hari jangan tunggu pagi hari, dan jika kamu berada di pagi hari jangan tunggu sore hari, gunakanlah kesehatanmu untuk (persiapan saat) sakitmu dan kehidupanmu untuk kematianmu “
(HR. Bukhori)
Oke, itu kalimat pembuka sms saya kepada salah seorang sahabat di suatu sore yang berhawa galau. Biasa.. sohib yang satu ini sedang berproses dengan seseorang, dan yaa.. biasa banget lah ya.. bagi mereka yang akan berproses, sedang berproses, atau bahkan telah selesai proses dan akan segera menikah, biasanya ditimpa kegalauan demi kegalauan bertubi-tubi.. hehe.. (kaya’ tau banget, kaya’ udah pernah aja )
Cuma rada geli aja ketika mereka nyurhatin itu ke saya. Hey pliss.. jangankan nikah, pacaran aja gewe kagak ngarti bagaimane rasanye.. tapi ya di saat-saat itulah bakat gambus saya akan muncul dan bekerja agak baik. Sok diplomatis, sok ngebayangin apa yang akan saya lakukan kalo ada di posisi mereka, trus ngasih nasehat macem2 :p. Gelinya lagi, qo mereka percaya aja ya..? hehehe
Ok well, back then, terlepas dari salah-benernya isi sms itu (karena semua orang berhak berpendapat dan berhak meng-kritisi pendapat orang lain)
pendapat di atas muncul ketika saya mikirin tentang kemampuan adaptasi. Ya,manusia kan punya kemampuan adaptasi yang tinggi. Dalam keadaan apapun, mereka akan berusaha menyesuaikan diri untuk bertahan hidup, untuk tetap diterima di lingkungan yang ujung-ujungnya agar supaya eksistensi mereka tetep diakui.
Pas tanggal tua misalnya, waktu tebel dompet semakin menipis, adaptasi kita ya.. ngurangin kualitas dan kuantitas makanan, atau nahan diri buat ga beli barang-barang tersier. Kita yang biasa tidur jam 9, ketika ujian –karena sebagian besar mahasiswa Indonesia menganut sistem SKS hehe- akhirnya adaptasi ngurangin jam tidur demi supaya nilai ujian kita ga jeblok. Kita yang ga pernah jauh dari ortu, dan selalu dilayani oleh asisten rumah tangga, saat kuliah di tempat jauh akhirnya harus nge-kost dan memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri, etc..
Kalo boleh saya sebut, ini adalah: keadaan yang memaksa. Maksa kita –mau gak mau- buat berubah, buat adaptasi supaya tetep survive...
Masalahnya bukan pada siap-gak siap.. Saat akad nikah sudah terucap, saat kita sudah menyandang status baru sebagai seorang istri atau suami, mau ga mau kita pun akan menyesuaikan diri untuk berlaku sesuai dengan peran baru itu. Yang tadinya ga bisa bedain jahe dan lengkuas, yang ga ngerti cara nyetrika, nyuci piring, akhirnya harus belajar melakukan pekerjaan rumah tangga, yang belum berpenghasilan tetap lebih giat bekerja untuk menghidupi kelurga, etc.. Pun juga saat kita sudah menyandang gelar baru sebagai ibu, pada akhirnya kita bisa juga membedong bayi, memandikan, mengggendong, de el el.. padahal tadinya ga ngerti sama sekali caranya.. tuntutan peran itu yang mendorong kita untuk terus belajar supaya bisa..
Kita bisa menjadi siapapun jika keadaan memang menuntut kita untuk itu
Masalahnya bukan pada siap –gak siap. Nyatanya, kakek nenek kita dulu nikah seusia SMP, tapi tetap bisa melahirkan dan merawat anak-anaknya hingga menjadi orang tua-orang tua hebat seperti yang kita miliki sekarang...
Masalahnya ada pada ikhlas atau tidak, rela atau tidak, ridho atau tidak kita menikah: saat ini, dan dengan orang tersebut... Inilah yang membuat ’rasa’dari adaptasi tadi menjadi berbeda. Ibarat makan duren, bagi penikmatnya, akan terasa manis dan lezat, tapi bagi pemantangnya, mencium harumnya dari kejauhan saja sudah membuat perut mual
So, kalo udah yakin dengannya dan udah rela melepas masa lajang sekarang, hilangkan semua ragumu atau aku akan mendahuluimu (loh?) LOL :D
Soal cinta...
Aku tak ingin lagi banyak bicara
Semakin sering aku merangkai kata
Semakin sulit aku menyembuh luka
saat cinta memudar warna
atau bahkan... berganti rupa
(1-9-2010)*********
Sewajarnya. Begitu yang Rasulullah SAW. ajarkan dalam menyukai atau membenci sesuatu. Karena sesuatu yang kita anggap baik, bisa saja suatu saat menjadi hal yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya. Dan sebaliknya, hal-hal yang sangat kita benci, kita jauhi, kita hindari, tidak menutup kemungkinan kelak dapat menjadi teman karib dan sahabat setia. Sebuah justifikasi paten rasanya kurang berhak kita legalkan atas seseorang untuk selamanya. Karena kita terhijab dari masa depan. Kita tak pernah tahu, perubahan apa yang akan terjadi esok. Yang bisa kita berikan adalah penilaian terhadap keadaannya, saat ini. Ya, Saat ini...
Pada tulisan ini saya lebih menyoroti kecenderungan terhadap sesuatu yang kita anggap baik. Terutama dalam hal perasaan. Jaah... iya deh, cinta maksudnya! Mau ngomong gitu aja ribet banget dah saya :p
**********
Kecenderungan yang berlebihan, akan mengaburkan keobjektifan.
Syifa misalnya, sudah bertahun-tahun mengagumi dan mengharapkan seorang seniornya sejurusan yang tampak tampan, sabar, alim, dan berwibawa. Dan Syifa pun merasa, si senior juga memberi harapan padanya. Ketika sebuah tawaran untuk merangkai bahtera rumah tangga datang dari seorang ikhwan yang cukup qualified, Syifa menolaknya. Hasil istikharahnya: tidak diberi kemantapan hati. Namun bukan karena ada cacat pada si ikhwan, melainkan masih mengharapkan si senior, dan hatinya merasa tak lega untuk memulai dengan yang lain, selama senior itu belum mendapatkan pendampingnya. Syifa merasa, dengan ’tanda-tanda’ dari si senior yang selama ini dia rasakan (catat! Yang dia rasakan) pasti masih ada kesempatan baginya untuk menjadi yang terpilih. Ketika mengagumi sesuatu, kita juga mulai menjadikannya sebagai tolak ukur terhadap yang lain.
Bayangkan jika kondisinya berbeda: Syifa belum memiliki pandangan siapa-siapa. Hatinya masih bersih-netral, tentu Syifa bisa lebih objektif memikirkan tawaran ikhwan itu.
***********
Kemudian, kecenderungan yang diiringi justifikasi itu akan berubah menjadi sebuah ekspektasi-ekspektasi yang berlebihan pula. Sementara ekspektasi yang berlebihan, akan memunculkan sebuah kekecewaan yang lebih dalam, bila kita memergoki sebuah kenyataan yang gak sinkron dengan harapan.
Baik, mari kita lanjutkan kisah Syifa tadi. Oke, pada akhirnya, feeling Syifa memang benar. Senior itu pun memilihnya untuk merajut cinta dalam sebuah ikatan yang halal. Mereka pun mulai mendayung biduk bersama. Namun, pada perjalanannya, ternyata tak semulus yang Syifa bayangkan. Ada banyak kekecewaan, dan penyesalan yang datang belakangan, setelah tahu bahwa senior pujaan yang kini menjadi suaminya itu, ternyata tak sesabar, sealim, dan sebijaksana yang dulu ia sangka.
*************
Berbeda dengan mereka yang tak terlalu berekspektasi, sejak awal yang mereka siapkan adalah penerimaan terhadap segala keadaan, baik maupun buruk. Mereka mengandalkan prasangka baik untuk memercayai bahwa kita sesosok makhluk dengan banyak kelebihan, sekaligus menyiapkan sebuah pemakluman, bahwa kita juga manusia biasa dengan segala keniscayaan untuk memiliki kekurangan.
Saya ga bilang ini mutlak, ya. Mereka yang berkecenderungan lebih dulu pasti selalu kecewa pada akhirnya, sementara yang bener-bener mulai mengenal dari nol, selalu dilimpahi kesyukuran dan kebahagiaan. Ga gitu juga, semua lebih tergantung dari komitmen masing-masing pasangan untuk mau saling dibenarkan dan membenarkan atau enggak. Mau saling menjaga agar tetap dalam kebaikan atau enggak. Tapi at least, mindset dan alam bawah sadar yang terbentuk dari sebuah kecenderungan itu seperti yang udah saya tulis berkalimat-kalimat tadi, juga berperan disini. :p
Saya rasa, berharap, berkecenderungan, dan berekspektasi adalah hak masing-masing orang. Tapi kalo boleh saya tambahkan sebuah syarat: harus bisa memanage-nya dengan baik. Tidak berlebihan, tidak mengaburkan keobjektifan, tidak menjadikannya tolak ukur untuk sebuah kesempurnaan, tidak menjadikannya sebagai tujuan dalam memperbaiki diri yang pada akhirnya akan mengurangi keikhlasan kita pada Allah, dan yang paling penting: bersiap tak hanya untuk bahagia, tapi juga kecewa sebagai 2 bentuk konsekuensi atas sebuah harapan. Jadi gak timpang.. Bersiap dengan konsekuensi terburuk, tapi juga tak membuat diri kita terlalu takut untuk terus melangkah.
Susah? Dicoba dulu! :)
Idul adha 1432 H –sebelum hectic dengan bedah J -
Copyright 2009 Design by Free CSS Templates | Blogger Templates by TeknoMobi | Sponsored by Sunipeyk.