Melarung Cinta Lalu

Sabtu, 02 Februari 2013

Mengetahui bahwa kau bukanlah (lagi) yang terpenting bagi seseorang, memang menyakitkan. Tapi jutsru itulah alasan yang sangat cukup untuk membuatmu sadar, bahwa kau harus melanjutkan hidupmu lagi, seperti laiknya orang normal. Memandang segalanya dengan lebih objektif. Berusaha lagi, untuk meraih harapan lain yang kau tahu pasti, peluangmu untuk meraihnya sama besarnya dengan peluangmu untuk kehilangannya.
Bukan lagi harapan-harapan semu yang menyakitkan, karena kau tafsirkan atas asumsimu sendiri. Harapan semu yang tampak tak pernah memberimu kepastian, karena kecenderungan  membuatmu timpang memandang peluangnya. Sebab kau selalu sigap ingin memiliki, tapi malas melatih hati untuk kehilangan.

Dia sudah move on darimu. Bahagia dengan seseorang lain disana, yang tentu saja, itu bukan kamu.
Lalu kau masih disitu? Jalan di tempat meratapi kesedihan yang itu-itu lagi?
Mungkin kariermu lebih cemerlang dari sebelumnya, prestasimu luar biasa mengagumkan dari biasanya.
Aku maklum. Dengan seluruh energi kebencian, sakit hati, penyesalan, kesedihan, keinginan untuk melupakan, dan entah apalagi, mudah saja kau kerahkan seluruh waktumu untuk bekerja, berusaha tidak memberi ruang untuk waktu luang, menghampirimu dengan kenangan menyakitkan masa lalu itu.
Tapi hatimu? Ah, hatimu tidak bergerak sejengkalpun…
Tetap diam disitu. Dengan memori yang sama milik beberapa tahun silam.
Tiap kali otakmu berusaha mengingatkan agar kau segera pulih, kau  gegas-gegas memberi alasan bahwa hal-perihal cinta tidak pernah masuk di akal. Irasional. Tidak butuh penjelasan.
Kau bisa saja terus-menerus membiarkan dirimu tampak menyedihkan. Lalu membuatnya merasa bersalah dengan melimpahkan kesalahan, bahwa itu semua adalah karenanya.
Tapi apa  yang kau harapkan darinya? Apa yang bisa dia lakukan untukmu sekarang? Memintanya datang lagi padamu? Berusaha meyakinkan lagi bahwa kau adalah yang terbaik untuknya?
Bahagiakah kau dengan cinta yang dipaksakan?
Bahagiakah kau dengan merebut kebahagiaan orang lain?
Cinta itu demikian adanya, sayang… dia hanya sebuah hal yang memberi kebebasan bagi perasanya untuk menafsirkan cinta dengan persepsi mereka masing-masing. Dan tiap tafsir, akan sangat mempengaruhi bagaimana kau memperlakukan cinta kemudian.
Jika kau memahami cinta adalah perasaan irasional, sesuatu yang tidak masuk akal, tidak butuh penjelasan, maka cepat atau lambat luka itu akan kembali menganga. Kau dengan mudah membenarkan apapun yang terjadi di hati, tanpa tahu, tanpa memberikan kesempatan berpikir bahwa itu boleh jadi karena kau tidak mampu mengendalikan perasaan tersebut**
Jika kau terjemahkan cinta adalah sebuah rasionalitas sempurna, maka sesakit apapun pengalaman itu, kau tidak akan dengan mudahnya membiarkan hatimu untuk merasa luka terus-menerus.
Lepaskan, sayang… , jangan lupakan…! Karena itu akan membuatmu semakin sakit…
Berdamailah…! Berdamailah dengan hatimu.
Berdamailah agar bahagianya juga menjadi bagian dari bahagiamu. Sama seperti yang selama ini selalu dia harapkan untukmu. Agar kau pun segera bahagia, meski bukan dengannya.
Beri kesempatan bagi cinta-cinta lain yang akan datang mengetuk hatimu.
Seperti kau tahu ambang kesedihan tiap orang selalu berbeda, maka kaulah yang sebenarnya mengatur hatimu untuk merasa sedih, sakit, atau luka.
Bahagiamu tidak ditentukan oleh siapapun. Kau yang bertanggung jawab atas kebahagiaanmu sendiri.

Kau tak perlu mencarinya hingga jauh kemana. Karena bahagia itu dekat.
Ada di setiap hati yang selalu merasa cukup dengan pemberian-Nya. Ridho dengan semua yang  ditakdirkan-Nya untukmu. Berbaik sangka dan percaya bahwa apa yang Dia beri untukmu selalu yang terbaik. Lalu berterima kasih pada-Nya, dan menunggu dengan sabar kebaikan-kebaikan itu mewujud, satu demi satu.
Ada banyak hal ghaib yang tidak pernah kau tahu. Masa depanmu. Bahkan 24 jam dari sekarang? Tahukah kau apa yang akan terjadi?
Mungkin saat ini kau masih rajin bertanya “Kenapa??”
Tapi kelak, ada masanya kau akan bersyukur, mengapa tidak semua do’a-do’amu dikabulkan oleh-Nya.. :)
Menyembuhlah! Tak ada pilihan lain kecuali kau harus terus melanjutkan hidup.

Ruang renung, 3/2/2013
**Tere Liye-Sepotong Hati yang Baru
NB: Panggilan sayang, ga definitif lho... Untuk semua orang yang hatinya sedang sakit, dan butuh dukungan untuk segera hidup kembali :)








Hati-Hati Merasa

Jumat, 25 Januari 2013


Menyedihkan itu kalo kamu merasa punya banyak sahabat, lalu suatu saat sadar, sebenarnya mereka cuma datang karena ada perlu denganmu 
Menyedihkan itu kalo kamu merasa disukai seseorang karena dia begitu perhatian  , lalu suatu saat sadar, sebenarnya dia memang baik ke semua orang
Menyedihkan itu kalo kamu merasa presentasimu mengagumkan, lalu kamu dengar sebuah celetukan, “ah gitu doang mah gue juga bisa!”
Dan paling menyedihkan itu, kalo kamu merasa amal baikmu sudah cukup banyak, lalu saat buku amalmu disodorkan, kamu baru sadar, semua sudah habis karena amal burukmu pada orang lain (orang bangkrut di hari kiamat)
Menyedihkan itu kalo kamu tahu sebuah kenyataan, lalu kamu sadar, bahwa selama ini kamu hanya MERASA
Hati-hati dengan merasa

Memilih yang Tiada

Sabtu, 19 Januari 2013

Semalam ini, selepas shalat isya yang terlambat karena  tertidur, aku hanya berdiam di kamar. Bingung memilih. Akan melanjutkan menuliskah, membaca, mengerjakan soal UKDI, atau menonton X-factor (:p).
Selama beberapa menit hanya termenung, melihat cermin, mengingat potongan-potongan kejadian, mempertimbangkan pilihan-pilihan tadi, menatap cermin lagi,  kembali mengingat banyak hal yang sayangnya, masih hal-hal menyedihkan tentang itu lagi.
Lalu aku akhirnya memutuskan, berjalan ke seberang kamar, bilang pada seseorang  yang selalu aku minta menemaniku tidur saat aku pulang ke rumah
 "Ibu, ayo kita tidur"  

Kau tahu, diantara begitu banyak pilihan dalam hidup, yang terlalu kita takutkan resikonya, kita pertimbangkan benar-benar akibatnya, pada akhirnya kadang kita justru tidak memilih apa-apa, atau memilih apa-apa yang tidak pernah ada diantara pilihan-pilihan itu. Dan itu jugalah memilih.
Mungkin ingin mencoba peruntungan dari hal-hal yang tidak pernah kita pikirkan sebelumnya. Hal-hal yang tidak kita pikirkan resiko dan akibatnya terlalu lama seperti pilihan-pilihan sebelumnya. Karena kita sudah terlalu lelah menimbang.

-Bahkan setelah memilih untuk tidur, dan ibuku juga sudah tidur sedari tadi, aku masih berkutat di depan laptop, membuka tumblr dan blog, lalu menulis ini. :p-

Selamat rehat :)

Ruang renung, 19-1-2013

5-10-12

Sabtu, 06 Oktober 2012


Banyak, yang nggak ngerti...
lalu terluka, dan saling menyalahkan

Karena itu, 
aku takut bicara tentang hati

Maka aku tuliskan saja,
dan mungkin aku kirimkan ke.....

Entah kemana :)

#Kugy-Perahu Kertas

Valuable

Sabtu, 02 Juni 2012


Kie,
kalo kamu ngerasa sedih, takut, kecewa dengan dirimu sendiri, atau tidak berarti…
Selalu ingat, bahwa setidaknya ada orang-orang yang bahagia
hanya karena kamu ada...
****
Kalo kamu terlalu sedih untuk memikirkan orang-orang itu,
cobalah untuk mengingat,
setidaknya ada 1 orang yang menganggap kamu berharga
hanya karena kamu ada…
****
Karena itulah kebenarannya,
apa adanya kamu, kamu berharga :)

11/11/11, 11.32 p.m
-sms seorang teman-

Untold Story

Senin, 21 Mei 2012


Dan diantara pesan-pesan itu,
Mungkin ada yang tak perlu tersampaikan
Tak terucapkan
Tak terceritakan

Mungkin, 
ada yang  -mau tidak mau, sengaja atau terpaksa- 
harus kita sisakan,
hanya untuk kita sendiri

Biar hati, 
goresan pena pada kertas,
gumaman di tengah lelap tidur,
bisikan di tengah khusyu’ do’a,
yang pernah mendengar semuanya...

-Ruang Renung 19/5/2012-

Takdir Tahu Jalan Pulangnya

Jumat, 18 Mei 2012
--> 

Apa yang sebenarnya kau risaukan? :)

Takdir, punya jalannya sendiri untuk sampai pada orang yang dia tuju...

Secerdas apapun skenario dan tipu daya yang kau rancang, 
untuk mendapatkan atau memusnahkannya,
Sejauh apapun dirimu menghindar, 
sehiba apapun dirimu memohon-mohon penuh harap...

Jika takdir itu memang harus mengenaimu, 
ia akan berbelok menghindar pagar pengaman yang telah kau jadikan penghalang untuknya.
Bagai air yang meliuk lincah mencari celah kecil tak terlihat untuk lewat

Jika takdir itu memang tak pernah untukmu, 
ia akan enyah jauh-jauh sejak radius puluhan kilometer saat baumu tercium

Apa yang kau takutkan? :)
Takdir tahu kepada siapa harus menuju
Ia tak pernah salah orang, salah tempat, salah saat
Ia tak perlu dituntun,
Karena takdir tahu, jalan pulangnya :)

Ruang Renung, 18/5/2012
 **********
-->
Abdullah bin Abbas ra berkata : Saya pernah berada di belakang Nabi saw pada suatu
hari, beliau bersabda :
Wahai anak, saya hendak mengajarimu beberapa kalimat:
“Jagalah Allah niscaya engkau mendapati Nya di hadapanmu,
 ingatlah Allah di saat lapang niscaya Dia mengingatmu di saat sulit. 
Ketahuilah bahwa apa yang luput darimu tidak akan mengenaimu, dan apa yang mengenaimu tidak akan luput darimu. 
Ketahuilah bahwa bersama kesabaran ada kemenangan, bersama kesusahan ada jalan keluar, dan bersama kesulitan ada kemudahan “
(H.R. Tirmidzi)

 

Unseeable

Kamis, 17 Mei 2012

Mereka yang tampak tegar,
jarang membuang air mata,
ingin terlihat “kuat”, 
berusaha untuk selalu logis-realistis...

Tahukah?
Mungkin di sudut hati mereka...
Ada sebuah bagian rapuh,
 yang dapat hancur sekali libas!

Behind every sweet smile, there is a bitter sadness that no one can ever see... :)


Ruang renung, 5/5/2012

Biasa Yang Luar Biasa

Minggu, 29 April 2012

Mungkin kita memang harus belajar menghargai yang biasa...
Mata yang biasa melihat, gigi yang biasa mengunyah, udara yang biasa terhirup, air yang biasa menyegarkan, tangan-kaki yang biasa menjalankan masing-masing fungsinya, sahabat yang biasa selalu ada, istri yang biasa melayani, suami yang biasa melindungi dan dijadikan tumpuan, atau bahkan orang tua kita yang biasa memberikan kasih sayang dan perhatiannya...

Bukan karena itu semua adalah hal-hal yang biasa2 saja, tapi saking terbiasanya kita mendapat dan menikmatinya, rasanya yang kemudian menjadi biasa-biasa saja.
(Gak heran kalo rumput tetangga kelihatan lebih hijau, soalnya ga biasa kita lihat sih.. :p)

Padahal sebenarnya, ketika hal-hal tadi  hilang dari  kita, baru akan terasa,
betapa luar biasanya nikmat-nikmat Allah yang sering kita anggap remeh itu...
Termasuk, orang tua, mungkin?

Semoga kita tidak termasuk orang yang disebut Rasulullah saw.  rugi 3x lipat, diberi kesempatan emas membersamai orang tua kita hingga hari tuanya, namun karena kurangnya bakti kita, atau kedurhakaan yang terlampau sering kita lakukan, membuat kita tidak bisa masuk surga... *


- Ruang Renung, 29/4/12-


*Hadits Riwayat Muslim:
 Dari Abu Hurairah r.a bahwasanya Rasulullah saw. bersabda:
"Sungguh sangat merugi!" (Beliau mengucap­kannya sampai tiga kali). Para sahabat bertanya, "Siapakah yang merugi itu wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Yaitu orang yang menjumpai kedua orang tuanya atau salah satu dari keduanya ketika tua, akan tetapi tidaklah menjadikan ia masuk surga.
 (HR.Muslim)

Later then Never!

Selasa, 20 Maret 2012
Ini obrolan cukup apik diantara sekian banyak obrolan ga penting oleh para coass jiwa periode Maret 2012 yang -seperti biasa- nganggur tenguk-tenguk nungguin pasien datang di poli jiwa RSDM, hehee : ivanjaya.net

Syetan diturunkan ke muka bumi untuk mengajarkan satu kata pada manusia:
"NANTI!"

(by: mba TWKD, -lupa antara baca di buku atau liat di film-)

Dari Ibnu Umar radhiallahuanhuma berkata : Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam memegang pundak kedua pundak saya seraya bersabda : Jadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau pengembara “, Ibnu Umar berkata : Jika kamu berada di sore hari jangan tunggu pagi hari, dan jika kamu berada di pagi hari jangan tunggu sore hari, gunakanlah kesehatanmu untuk (persiapan saat) sakitmu dan kehidupanmu untuk kematianmu “

(HR. Bukhori)



Gak Siap atau Gak Rela?

“Gak akan ada orang yang benar-benar siap menikah sampai mereka ngerasain, seperti apa menikah itu sendiri. Andai semua alasan menunda menikah adalah karena belum siap, maka gak akan ada orang yang nikah.. karena mereka memang gak akan pernah siap sampai benar-benar tercipta sebuah keadaan yang menuntut mereka untuk menjadi siap.. Masalahnya bukan siap atau ga siap, tapi ikhlas, rela, atau enggak…”

Oke, itu kalimat pembuka sms saya kepada salah seorang sahabat di suatu sore yang berhawa galau. Biasa.. sohib yang satu ini sedang berproses dengan seseorang, dan yaa.. biasa banget lah ya.. bagi mereka yang akan berproses, sedang berproses, atau bahkan telah selesai proses dan akan segera menikah, biasanya ditimpa kegalauan demi kegalauan bertubi-tubi.. hehe.. (kaya’ tau banget, kaya’ udah pernah aja )

Cuma rada geli aja ketika mereka nyurhatin itu ke saya. Hey pliss.. jangankan nikah, pacaran aja gewe kagak ngarti bagaimane rasanye.. tapi ya di saat-saat itulah bakat gambus saya akan muncul dan bekerja agak baik. Sok diplomatis, sok ngebayangin apa yang akan saya lakukan kalo ada di posisi mereka, trus ngasih nasehat macem2 :p. Gelinya lagi, qo mereka percaya aja ya..? hehehe

Ok well, back then, terlepas dari salah-benernya isi sms itu (karena semua orang berhak berpendapat dan berhak meng-kritisi pendapat orang lain)
pendapat di atas muncul ketika saya mikirin tentang kemampuan adaptasi. Ya,manusia kan punya kemampuan adaptasi yang tinggi. Dalam keadaan apapun, mereka akan berusaha menyesuaikan diri untuk bertahan hidup, untuk tetap diterima di lingkungan yang ujung-ujungnya agar supaya eksistensi mereka tetep diakui.

Pas tanggal tua misalnya, waktu tebel dompet semakin menipis, adaptasi kita ya.. ngurangin kualitas dan kuantitas makanan, atau nahan diri buat ga beli barang-barang tersier. Kita yang biasa tidur jam 9, ketika ujian –karena sebagian besar mahasiswa Indonesia menganut sistem SKS hehe- akhirnya adaptasi ngurangin jam tidur demi supaya nilai ujian kita ga jeblok. Kita yang ga pernah jauh dari ortu, dan selalu dilayani oleh asisten rumah tangga, saat kuliah di tempat jauh akhirnya harus nge-kost dan memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri, etc..
Kalo boleh saya sebut, ini adalah: keadaan yang memaksa. Maksa kita –mau gak mau- buat berubah, buat adaptasi supaya tetep survive...

Masalahnya bukan pada siap-gak siap.. Saat akad nikah sudah terucap, saat kita sudah menyandang status baru sebagai seorang istri atau suami, mau ga mau kita pun akan menyesuaikan diri untuk berlaku sesuai dengan peran baru itu. Yang tadinya ga bisa bedain jahe dan lengkuas, yang ga ngerti cara nyetrika, nyuci piring, akhirnya harus belajar melakukan pekerjaan rumah tangga, yang belum berpenghasilan tetap lebih giat bekerja untuk menghidupi kelurga, etc.. Pun juga saat kita sudah menyandang gelar baru sebagai ibu, pada akhirnya kita bisa juga membedong bayi, memandikan, mengggendong, de el el.. padahal tadinya ga ngerti sama sekali caranya.. tuntutan peran itu yang mendorong kita untuk terus belajar supaya bisa..

Kita bisa menjadi siapapun jika keadaan memang menuntut kita untuk itu

Masalahnya bukan pada siap –gak siap. Nyatanya, kakek nenek kita dulu nikah seusia SMP, tapi tetap bisa melahirkan dan merawat anak-anaknya hingga menjadi orang tua-orang tua hebat seperti yang kita miliki sekarang...

Masalahnya ada pada ikhlas atau tidak, rela atau tidak, ridho atau tidak kita menikah: saat ini, dan dengan orang tersebut... Inilah yang membuat ’rasa’dari adaptasi tadi menjadi berbeda. Ibarat makan duren, bagi penikmatnya, akan terasa manis dan lezat, tapi bagi pemantangnya, mencium harumnya dari kejauhan saja sudah membuat perut mual

So, kalo udah yakin dengannya dan udah rela melepas masa lajang sekarang, hilangkan semua ragumu atau aku akan mendahuluimu (loh?) LOL :D

Cenderung yang Tak Buta

Minggu, 06 November 2011

Soal cinta...

Aku tak ingin lagi banyak bicara

Semakin sering aku merangkai kata

Semakin sulit aku menyembuh luka

saat cinta memudar warna

atau bahkan... berganti rupa

(1-9-2010)

*********

Sewajarnya. Begitu yang Rasulullah SAW. ajarkan dalam menyukai atau membenci sesuatu. Karena sesuatu yang kita anggap baik, bisa saja suatu saat menjadi hal yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya. Dan sebaliknya, hal-hal yang sangat kita benci, kita jauhi, kita hindari, tidak menutup kemungkinan kelak dapat menjadi teman karib dan sahabat setia. Sebuah justifikasi paten rasanya kurang berhak kita legalkan atas seseorang untuk selamanya. Karena kita terhijab dari masa depan. Kita tak pernah tahu, perubahan apa yang akan terjadi esok. Yang bisa kita berikan adalah penilaian terhadap keadaannya, saat ini. Ya, Saat ini...

Pada tulisan ini saya lebih menyoroti kecenderungan terhadap sesuatu yang kita anggap baik. Terutama dalam hal perasaan. Jaah... iya deh, cinta maksudnya! Mau ngomong gitu aja ribet banget dah saya :p

**********

Kecenderungan yang berlebihan, akan mengaburkan keobjektifan.

Syifa misalnya, sudah bertahun-tahun mengagumi dan mengharapkan seorang seniornya sejurusan yang tampak tampan, sabar, alim, dan berwibawa. Dan Syifa pun merasa, si senior juga memberi harapan padanya. Ketika sebuah tawaran untuk merangkai bahtera rumah tangga datang dari seorang ikhwan yang cukup qualified, Syifa menolaknya. Hasil istikharahnya: tidak diberi kemantapan hati. Namun bukan karena ada cacat pada si ikhwan, melainkan masih mengharapkan si senior, dan hatinya merasa tak lega untuk memulai dengan yang lain, selama senior itu belum mendapatkan pendampingnya. Syifa merasa, dengan ’tanda-tanda’ dari si senior yang selama ini dia rasakan (catat! Yang dia rasakan) pasti masih ada kesempatan baginya untuk menjadi yang terpilih. Ketika mengagumi sesuatu, kita juga mulai menjadikannya sebagai tolak ukur terhadap yang lain.

Bayangkan jika kondisinya berbeda: Syifa belum memiliki pandangan siapa-siapa. Hatinya masih bersih-netral, tentu Syifa bisa lebih objektif memikirkan tawaran ikhwan itu.

***********

Kemudian, kecenderungan yang diiringi justifikasi itu akan berubah menjadi sebuah ekspektasi-ekspektasi yang berlebihan pula. Sementara ekspektasi yang berlebihan, akan memunculkan sebuah kekecewaan yang lebih dalam, bila kita memergoki sebuah kenyataan yang gak sinkron dengan harapan.

Baik, mari kita lanjutkan kisah Syifa tadi. Oke, pada akhirnya, feeling Syifa memang benar. Senior itu pun memilihnya untuk merajut cinta dalam sebuah ikatan yang halal. Mereka pun mulai mendayung biduk bersama. Namun, pada perjalanannya, ternyata tak semulus yang Syifa bayangkan. Ada banyak kekecewaan, dan penyesalan yang datang belakangan, setelah tahu bahwa senior pujaan yang kini menjadi suaminya itu, ternyata tak sesabar, sealim, dan sebijaksana yang dulu ia sangka.

*************

Berbeda dengan mereka yang tak terlalu berekspektasi, sejak awal yang mereka siapkan adalah penerimaan terhadap segala keadaan, baik maupun buruk. Mereka mengandalkan prasangka baik untuk memercayai bahwa kita sesosok makhluk dengan banyak kelebihan, sekaligus menyiapkan sebuah pemakluman, bahwa kita juga manusia biasa dengan segala keniscayaan untuk memiliki kekurangan.

Saya ga bilang ini mutlak, ya. Mereka yang berkecenderungan lebih dulu pasti selalu kecewa pada akhirnya, sementara yang bener-bener mulai mengenal dari nol, selalu dilimpahi kesyukuran dan kebahagiaan. Ga gitu juga, semua lebih tergantung dari komitmen masing-masing pasangan untuk mau saling dibenarkan dan membenarkan atau enggak. Mau saling menjaga agar tetap dalam kebaikan atau enggak. Tapi at least, mindset dan alam bawah sadar yang terbentuk dari sebuah kecenderungan itu seperti yang udah saya tulis berkalimat-kalimat tadi, juga berperan disini. :p

Saya rasa, berharap, berkecenderungan, dan berekspektasi adalah hak masing-masing orang. Tapi kalo boleh saya tambahkan sebuah syarat: harus bisa memanage-nya dengan baik. Tidak berlebihan, tidak mengaburkan keobjektifan, tidak menjadikannya tolak ukur untuk sebuah kesempurnaan, tidak menjadikannya sebagai tujuan dalam memperbaiki diri yang pada akhirnya akan mengurangi keikhlasan kita pada Allah, dan yang paling penting: bersiap tak hanya untuk bahagia, tapi juga kecewa sebagai 2 bentuk konsekuensi atas sebuah harapan. Jadi gak timpang.. Bersiap dengan konsekuensi terburuk, tapi juga tak membuat diri kita terlalu takut untuk terus melangkah.

Susah? Dicoba dulu! :)

Idul adha 1432 H –sebelum hectic dengan bedah J -


Mencintai Sejantan 'Ali r.a

Sabtu, 05 November 2011
Ini memang bukan tulisan saya, tapi ga tau kenapa, dari dulu sampai sekarang, saya suka banget true story yang dikemas ulang dengan sangat apik ini. Boleh ya, saya re-post lagi :) (setelah yang pertama di facebook :p)


Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah!
Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya. Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya!

Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali. Mengagumkan!

**************
‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.
”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali. Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakr lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya..

Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali. Lihatlah berapa banyak budak muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insyaallah lebih bisa membahagiakan Fathimah. ’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin.
”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali. ”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.” Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.
Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu. Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri.
*************

Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh-musuh Allah bertekuk lutut. ’Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah.

’Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, ”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..” Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah.
Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya. ’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi. ’Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah. ”Wahai Quraisy”, katanya. ”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!”

’Umar adalah lelaki pemberani. ’Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ’Umar jauh lebih layak. Dan ’Ali ridha. Mencintai tak berarti harus memiliki. Mencintai berarti pengorbanan untuk kebahagiaan orang yang kita cintai. Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan. Itulah keberanian. Atau mempersilakan. Yang ini pengorbanan.
****************

Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ’Umar juga ditolak. Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ’Utsman sang miliarder kah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’ kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri. Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adz kah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ’Ubadah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?
”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. ”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi..”
”Aku?”, tanyanya tak yakin.
”Ya. Engkau wahai saudaraku!”
”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”
”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”

’Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang. ”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas rasa cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan-pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya.

Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi. Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.
”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”
”Entahlah..”
”Apa maksudmu?”
”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”
”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka, ”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya!”

Dan ’Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang. Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti. ’Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!”
Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggungjawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ’Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian. Dan bagi pencinta sejati, selalu ada yang manis dalam mencecap keduanya.

Di jalan cinta para pejuang, kita belajar untuk bertanggungjawab atas setiap perasaan kita..

July 9, 2008 by salim-a-fillah
www. fillah.co.cc